SCHOOLS NEED ‘DIVERSITY SENTINELS
“SCHOOLS NEED ‘DIVERSITY SENTINELS’”(1)

Keberagaman bukanlah hal baru di Thailand. Berbagai suku, budaya, ras, dan agama dapat bertemu dalam gambaran interaksi bisnis. Bisnis telah menjadi aspek yang vital dalam pergerakan sosial ekonomi, sehingga menjadi tantangan untuk membuat sistem toleransi yang cocok untuk praktik lingkungan kerja. Menanamkan norma toleransi dapat dilakukan melalui pendidikan sebagai langkah awal, dengan demikian sekolah bisnis menjadi subjek yang tepat dalam mengaplikasikan pemahaman keberagaman yang saat ini masih belum banyak di perbincangkan, dengan menuliskannya dalam kurikulum. Lulusan dari sekolah bisnis akan menjadi operator bisnis, pemilik, manajer, dan pemimpin yang menjadi pelaku utama dari interaksi keberagaman mulai level nasional hingga internasional.

Jika mengacu pada kemajuan Jerman dan Australia, pemahaman mengenai keberagaman diikuti dengan partisipasi demokrasi yang tinggi oleh masyarakatnya. Hal tersebut kemudian menjadi efek berantai yang mempengaruhi penurunan kemiskinan, peningkatan ekonomi, kemajuan teknologi, pendidikan, dan kesejahteraan. Oleh karena itu, pendidikan di sekolah bisnis harus inovatif dengan menerapkan sistem toleransi, bahkan sebelum pemerintah membentuk kebijakan. Karena harapannya, sekolah bisnis dapat meningkatkan kompetensi lulusan, bukan hanya dari kemampuan kerja, namun juga etika dan esensi kemanusiaan mengingat pada era globalisasi kini, bisnis dapat dilakukan oleh semua kalangan, perempuan dan laki-laki, pekerja tua, muda, pekerja migran, karyawan disabilitas, lesbian, gay, biseksual, transgender, queer, dan interseks (LGBTQI).

Lulusan sekolah bisnis akan menjadi panutan yang memprakktikan keberagaman dalam lingkungan kerja. Hal itu, dapat menjadi contoh toleransi dengan berbagai macam cara dan memberikan efek positif pada masyarakat dan ekonomi. Pendidikan toleransi di lingkungan bisnis bukanlah sebuah opsi, namun sebuah keharusan. Kematangan pemikiran dan pemahaman yang jelas mengenai ‘apa dan bagaimana’ menghadapi perbedaan adalah investasi bagi sebuah negara sehingga, dikemudian hari para pelaku bisnis di masa depan dapat membuat kebijakan-kebijakan mengenai toleransi perbedaan yang tepat, demi berkontribusi pada masyarakat dan praktik bisnis yang akan menguntungkan produktifitas negara.

(1) Berita ini disadur dari Bangkok Post, ditulis oleh Nattavud Pimpa sebagai Profesor dari Asosiasi di Sekolah Manajemen Bisnis, di Universitas Mahidol
Disadur oleh: Dinda Sri Estu