RANKINGS NOT BE-ALL, END-ALL FOR THAI UNIVERSITIES
"RANKINGS NOT BE-ALL, END-ALL FOR THAI UNIVERSITIES"(1)

Membicarakan peringkat universitas, hal tersebut tidak dapat dipisahkan dengan gengsi pendidikan di berbagai negara termasuk Thailand. Universitas di Thailand saat ini sedang menghadapi tantangan dalam memperbaiki kualitas pendidikan nasional. Secara Internasional peringkat universitas Thailand mengalami degradasi ke peringkat 600-1.000. Pemeringkatan tersebut dikeluarkan melalui dua lembaga penilaian yaitu, Times Higher Education World University Rangking (THE) dan Shanghai-based Academic Rangking of World Universities (ARWU). Dengan peringkat ini, banyak masyarakat awam Thailand yang berpandangan bahwa hal ini disebabkan oleh sistem pendidikan yang kurang matang, sedangkan banyak faktor lain yang mempengaruhi penilaian peringkat internasional.

Beberapa faktor yang dimaksud diantaranya adalah jumlah pemasukan universitas, jumlah mahasiswa, target umum pendidikan, sumber bacaan, penguasaan bahasa yang berpengaruh pada hasil riset, dan reputasi universitas. Pertama, jumlah pemasukan. Apabila membandingkan Universitas Harvard dan Universitas Mahidol. Universitas Harvard memiliki jumlah pemasukan sekitar US$30 miliar (sekitar 45,5 triliun rupiah), atau sekitar 30 kali lebih besar daripada Mahidol yang notabene merupakan universitas terkaya di Thailand dengan pemasukan dari aktivitas rumah sakit yang dimilikinya. Hal tersebut tentunya berpengaruh pada anggaran riset dan sistem penghargaan pada mahasiswa berprestasi. Seperti yang tertulis bahwa 20 universitas terbaik, 16 diantaranya adalah universitas terkaya di dunia. Meskipun bisa dikatakan bahwa uang bukanlah segalanya.

Kedua, alasan dari degradasi peringkat secara internasional dapat diakibatkan oleh orientasi pendidikan yang fokus pada kualitas pengajaran, bukan hanya peringkat. Tujuan umum siswa melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi adalah kepastian jenjang karir di kemudian hari. Lagi-lagi, jika dibandingkan dengan Universitas Harvard, jumlah mahasiswa mereka berkisar antara 6.000 orang saja, sedangkan universitas di Thailand memiliki jumlah mahasiswa dua kali lebih besar dan tentunya mempengaruhi pengeluaran dan jumlah serapan pengajar.

Ketiga, jumlah publikasi riset yang minim yang disebabkan oleh keterbatasan bahasa yang digunakan dalam publikasi riset dan sumber yang minim. Publikasi riset banyak diunggah menggunakan bahasa Thailand dan tidak menjadi sumber utama karena bukan bahasa internasional, berbeda dengan bahasa Inggris, Prancis, dan Mandarin. Oleh karena itu, para pembaca juga terbatas hanya masyarakat Thailand, bukan masyarakat internasional. Keempat adalah reputasi yang mempengaruhi tingkat kepercayaan investor atau masyarakat. Reputasi merupakan hal yang mempengaruhi kepercayaan diri baik mahasiswa maupun universitas. Dalam hal ini, meyakinkan masyarakat tentang ‘universitas terbaik’ adalah hal yang sangat penting dalam pembangunan citra.

Bagaimana pun, jumlah mahasiswa yang diajar, jumlah pemasukan universitas, jumlah publikasi riset, dan sistem pengajaran yang masih bersifat kontemporer bukanlah sebuah alasan untuk meninggalkan kualitas pendidikan bagi sebuah bangsa. Namun, berorientasi hanya kepada ranking adalah sebuah hal yang terlalu dangkal. Hal yang paling penting dari pendidikan adalah bagaimana para lulusan dapat berkontribusi langsung pada masyarakat, pembangunan nasional, demokrasi, dan hal-hal riil lainnya.

(1)Berita ini disadur dari tulisan Mike Hayes, Dosen Institut HAM & Perdamaian Universitas Mahidol, Bangkok
Penyadur: Dinda Sri Estu