Penjemputan Penuh Haru Mahasiswa Thailand dari Kota Palu

Selasa, (2.10.18) bertempat di Bandara Don Muang Bangkok pukul 17.16 waktu setempat, dilaksanakan penjemputan 26  Mahasiswa Thailand  berbeasiswa dari pemerintah Indonesia (Universitas Tadulako) yang terkena dampak gempa di Palu. Penjemputan terbagi menjadi dua kloter, dimana kloter pertama dilakukan bersama KBRI yang diwakili oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Mustari, M.Pd, Manajer dan pemilik Institut Islamiah Attarkiah Narathiwat Thailand Phaisan Toryib, Kementrian Luar Negeri Thailand urusan Konsuler Sorayut Chasombat, Penasehat Kantor Perdana Menteri Police Colonel Tawee Sodsong, dan TV 3 Thailand. Pada penjemputan kloter pertama tersebut terdapat 11 mahasiswa, terdiri dari 9 perempuan dan 2 laki-laki yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Tadulako (Untad) Palu, dari berbagai jurusan seperti Kimia, Agribisnis, Teknik Sipil yang menempuh semester 5 dan 7. Para mahasiswa tersebut diselamatkan melalui jalur udara dari Palu menuju Makassar lalu Jakarta dan Bangkok pada hari Selasa 2 Oktober 2018 selanjutnya di terbangkan langsung ke Thailand Selatan Hatyai pkl. 21.00 waktu setempat pada hari yang sama. Hal ini juga menyusul perintah Presiden Republik Indonesia Jokowi, diantaranya memprioritaskan warga negara asing agar segera dievakuasi atau diselamatkan. Setidaknya masih ada 17 mahasiswa Thailand lain yang berkuliah di universitas lain dan masih belum bisa dijangkau.

Keharuan memancar dalam pertemuan kemarin, para mahasiwa tidak dapat menahan air mata mereka yang akhirnya terlepas dari ancaman bencana dan jauh dari rumah. Para mahasiswa ini mengaku mengalami aftershock dari bencana yang terjadi pada Jumat pekan lalu. Salah satu dari mereka juga mengalami  luka ringan di bagian kepala karena terkena reruntuhan bangunan saat berusaha menyelamatkan diri di Asrama yang disediakan. Mereka menuturkan bahwa saat kejadian terjadi mereka sedang berada di Asrama yang berada di lt. 3, berbeda dengan Andy (salah satu mahasiswa dari Teknik Sipil) yang sedang berada dalam perjalanan pulang setelah melaksanakan magang. Dia menuturkan bahwa gempa berlangsung sebelum solat maghrib, lalu terjadi pemadaman listrik, disusul dengan tsunami, lalu mulai terjadi kejadian-kejadian lain seperti kebakaran. Mereka menjelaskan bahwa kondisi di Palu setelah malam sangat mencekam karena listrik belum bisa menyala, sehingga membatasi kegiatan evakuasi. Selanjutnya mereka menuturkan bahwa gempa susulan masih terus terjadi, bahkan ketika mereka menunggu keberangkatan di lapangan lepas landas, tempat mereka tidur dan beristirahat selama 3 hari sebelum akhirnya di selamatkan.  Latifah, salah satu mahasiswi jurusan kimia seharusnya melaksanakan ujian proposal pekan depan.

Kehadiran perwakilan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia yang menunjukkan bahwa KBRI di Thailand, atas arahan Duta Besar senantiasa siap berkoordinasi serta fasilitasi atas suatu musibah apalagi musibah ini memiliki dampak kepada warga negara sahabat. Pada akhir penjemputan di airport, Prof. Dr. Mustari M,Pd. menyampaikan agar para mahasiswa tetap tenang serta tidak lupa untuk terus belajar serta mengikuti informasi khususnya dari kampus tempat belajar di Palu sampai ada kebijakan berikutnya. Selanjutnya, tetap sesekali berkomunikasi dengan dosen atau pimpinan jurusan untuk memastikan rencana atau langkah berikut termasuk mengenai status beasiswa bagi mereka. Harapannya pembelajaran dengan beasiswa ini diteruskan kembali setelah kondisi di Palu membaik dan stabil bersamaan dengan kembalinya semangat serta sembuhnya trauma para mahasiswa.

– Dinda Estu

Atase Pendidikan saat berpisah dengan para mahasiswa
Atase Pendidikan memberikan wejangan kepada para mahasiswa
Foto bersama para mahasiswa dan rombongan penjemput
Potret keharuan antara Mr. Phaisan Toryib dan mahasiswa Thailand dari Palu
Atase Pendidikan saat memberikan salam perpisahan
Atase Pendidikan saat diwawancara oleh TV 3 Thailand

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *