Simposium Internasional OISAA ASIA OSEANIA 2018

Sabtu 12 Mei 2018, bertempat di aula Thammasat University, Perhimpunan Pelajar Indonesia di Thailand (Permitha) telah mengadakan Simposium Asia Oseania 2018 dengan tema Human Trafficking and Migrant Workers. Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Thailand melalui Prof. Dr. Mustari, M.Pd selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan sangat mendukung acara ini karena acara ini merupakan ajang silaturahmi PPI dari berbagai negara di kawasan Asia Oseania serta dapat menumbuhkan jiwa advokasi mahasiswa kepada masyarakat sekitar.

Acara diawali dengan presentasi dua finalis kompetisi esai bertema End The Modern-Day Slavery, yaitu Siti Malikatul Mushowwiroh dan Adhitya Saputra Surbagung, dilanjutkan dengan sesi diskusi. Kedua finalis tersebut masih muda namun pemaparannya sangat bagus dan dapat mengikuti sesi diskusi dengan sangat baik.

Pembukaan simposium dilaksanakan setelah pemaparan esai oleh kedua finalis kompetisi esai tersebut. Sebagai pembukaan, Ketua Panitia Simposium, Presiden Permitha, Koordinator PPI Kawasan Asia Oseania, Dean of Faculty Liberal Arts Thammasat University, serta Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Thailand menyampaikan sambutannya. Dalam sambutannya, Haerul Imam selaku ketua panitia menyatakan bahwa seluruh elemen mahasiswa Permitha yang tergabung dalam kepanitiaan acara ini telah mempersiapkan acara dengan semaksimal mungkin. Fadjar Mulya sebagai Presiden Permitha mengucapkan terimakasih kepada seluruh panitia, KBRI Bangkok, seluruh delegasi PPI kawasan Asia Oseania, Thammasat University, serta para undangan dan para pembicara yang telah turut ambil bagian dalam menyukseskan acara ini.

Dalam sambutannya, Koordinator PPI Kawasan Asia Oseania Zulfadli S.Kom yang memaparkan sejarah panjang modern slavery & human trafficking berharap hasil diskusi dari acara ini dapat menjadi bahan pembahasan pada Simposium PPI Dunia pada tanggal 14 – 26 Juli 2018 mendatang. Terkait dengan pelaksanaan simposium, Associate Professor Dumrong Adunyarittigun selaku Dean of Faculty Liberal Arts Thammasat University menyampaikan terima kasih atas penunjukan Faculty Liberal Arts Thammasat University sebagai tuan rumah Simposium PPI Kawasan Asia Oseania serta memperbolehkan mahasiswa Thammasat untuk ikut berpartisipasi dalam acara sebagai peserta. Keikutsertaan mahasiswa Thammasat dalam acara ini dapat meningkatkan wawasan tentang immigrant worker di Asia Tenggara. Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Thailand Dicky Komar pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada Thammasat University karena telah bersedia menjadi tuan rumah dalam acara ini. Dicky menambahkan, acara ini dapat menjadi ajang penggalian informasi terkait immigrant worker & technical regulation of law bagi seluruh peserta simposium untuk kemudian diterapkan di masyarakat.

Prof. Dr. Ir. Hj Darmayanti Lubis selaku ahli di bidang ketenagakerjaan sekaligus Wakil Ketua DPD RI yang bertindak sebagai keynote speaker menyampaikan perlunya goodwill dari semua pihak terkait untuk menciptakan regulasi yang tepat dan benar. Darmayanti juga menyatakan pentingnya pendataan yang menyeluruh terhadap TKI.

Setelah penyampaian materi oleh keynote speaker, acara dilanjutkan dengan diskusi panel yang terdiri atas dua sesi. Materi sesi pertama disampaikan oleh Drs. H. Hardi Selamat Hood selaku perwakilan dari DPD RI Kepulauan Riau dan Zulfadli S.Kom. Hardi Selamat Hood menyampaikan bahwa tenaga kerja yang merupakan skilled workers secara tidak langsung dapat meningkatkan harkat martabat NKRI. Mereka patut diapresiasi dan didorong agar dapat meningkatkan kemampuan yang dimiliki. Di sisi lain, unskilled workers biasanya selain ilegal, juga menimbulkan masalah di kemudian hari. Undang-undang mengenai migrasi tenaga kerja sudah dirancang di tingkat DPD, namun tetap memerlukan goodwill dari semua pihak.

Materi sesi kedua disampaikan oleh Asist. Prof. Dr. Sustarum Thammaboosadee selaku dosen Interdisciplinary Studies dari Thammasat University serta Hartanto Gunawan selaku Coordinator of Community Learning Center for Development of Humanity Wat Arun Rajawararam. Dalam paparannya, Sustarum menyampaikan bahwa human trafficking juga terjadi di Thailand, terutama di daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Contoh kasus human trafficking itu adalah masuknya immigrant workers dari Myanmar ke Thailand melalui daerah perbatasan. Ada pula kasus human trafficking berupa sex workers wanita muda Thailand. Dewasa ini banyak ditemukan pekerja legal namun digaji tanpa mendapat uang pensiun ataupun tanpa memberikan asuransi yang layak. Hal ini merupakan bentuk baru perdagangan manusia yang disebabkan oleh neo-capitalism influence. Hartanto Gunawan juga menekankan bahwa kita harus mencegah dan menekan perdagangan manusia, terutama pada remaja perempuan dengan kondisi ekonomi yang dapat dikatakan miskin, tinggal di desa, serta memiliki tingkat pendidikan yang rendah. Mereka adalah orang-orang yang harus diperhatikan dan diselamatkan dari godaan menjadi pekerja seks. Salah satu bentuk untuk mencegah mereka masuk dalam pusaran human trafficking adalah dengan memberikan akses pendidikan kepada mereka, misalnya dalam wujud beasiswa, pelatihan, dan bantuan dalam mencari pekerjaan yang layak setelah mereka selesai menempuh pendidikan.

Garis besar dari seluruh rangkaian diskusi Simposium Asia Oseania tahun ini adalah human trafficking & modern slavery dapat ditekan melalui pendidikan, advokasi, peningkatan pembukaan lapangan kerja serta peningkatan ekonomi di dalam negeri sehingga masyarakat tidak perlu ke luar negeri hanya untuk mencari pekerjaan yang layak. Seluruh upaya ini perlu mendapat dukungan dari pemerintah, tetapi tentu dengan tidak melibatkan hal ini ke dalam politik praktis sehingga upaya menyelamatkan masyarakat dari human trafficking dapat berjalan secara berkesinambungan walaupun di bawah pergantian kekuasaan atau transformasi politik.

Acara ditutup dengan pengumuman pemenang kompetisi esai. Setelah memberikan penilaian terhadap kedua finalis yang telah menyampaikan esainya di awal acara ini, juri menyatakan bahwa pemenangnya adalah Siti Malikatul Mushowwiroh dengan esai berjudul Accomplish emancipation approach & role of youth as way to solve modern day slavery: cycle of society with unindependent economy will be like botched emancipation, no job opportunity. Suggested solutions: new creativity employment. Finalis lain, Adhitya Saputra Surbagung dinyatakan sebagai juara kedua dengan esai berjudul Globalization impact on ASEAN economic community(AEC): modern slavery, human trafficking, southeast asia hard labour migration.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *