Indonesian Day di Thammasat University untuk 68 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia – Thailand

Sabtu 8 September 2018, Faculty of Liberal Arts Thammasat University bekerja sama dengan KBRI Bangkok menyelenggarakan acara Indonesian Day. Indonesian Day, yang diadakan setiap tahun, kali ini mengangkat tema peringatan hubungan diplomatik Indonesia dan Thailand yang sudah terjalin selama 68 tahun. Acara ini bertujuan untuk mempererat hubungan antara Thammasat University dan KBRI Bangkok secara khusus serta memperkuat hubungan antara Indonesia dan Thailand secara umum. Dalam acara ini, turut hadir sejumlah pejabat dan tamu kehormatan dari kedua belah pihak, di antaranya adalah Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Thailand, Ahmad Rusdi, Wakil Rektor Thammasat University Assoc. Prof. Dr. Supasawad Chardchawarn, serta mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro.

Bertempat di Faculty of Liberal Arts Thammasat University, Tha Prachan Campus, acara Indonesian Day dimulai pada pukul sembilan pagi waktu setempat. Mengawali seluruh rangkaian kegiatan pada hari itu, hadirin disuguhkan pertunjukan kesenian. Pertunjukan kesenian adalah tari Tor-Tor dan tari Ram Uay Phon. Tari Tor-Tor ditampilkan oleh sejumlah siswa Sekolah Indonesia Bangkok (SIB), sedangkan tari Ram Uay Phon yang bermakna tari penyambutan dibawakan oleh dua mahasiswi Thammasat University.

Setelah tarian-tarian pembuka selesai, acara dilanjutkan dengan pidato pembukaan yang disampaikan oleh Assoc. Prof. Dr. Supasawad Chardchawarn selaku Wakil Rektor, Thammasat University. Secara umum, beliau merasa senang karena acara ini dapat terlaksana. Beliau juga menyampaikan bahwa ada banyak mahasiswa yang mempelajari bahasa dan budaya Indonesia di Thammasat University. Hal itu menandakan bahwa hubungan Indonesia dan Thailand berjalan dengan baik.

Dalam acara itu, Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Thailand, Ahmad Rusdi juga menyampaikan sambutan sekaligus menyampaikan materi selaku pembicara kunci (keynote speaker). Dalam paparannya, Duta Besar Ahmad Rusdi menyampaikan bahwa meskipun hubungan diplomatik Indonesia dan Thailand secara resmi baru dimulai 68 tahun yang lalu, sebenarnya persahabatan antara Indonesia dan Thailand sudah terjalin sejak abad ke 8 pada masa Kerajaan Sriwijaya. Sejumlah kunjungan tingkat tinggi yang pernah terjadi di masa lampau menjadi bukti historis hubungan Indonesia dengan Thailand. Persahabatan antara masyarakat Indonesia dan masyarakat Thailand pun telah berkembang melalui pertukaran dan kolaborasi dalam bidang seni budaya, agama, arsitektur, karya sastra, dan lain-lain. Dewasa ini, pemerintah Indonesia dan Thailand juga menegaskan kembali komitmen mereka untuk melanjutkan kerja sama dalam kerangka ASEAN dan ranah regional lain serta forum atau organisasi internasional lain.

Sebagai penutup, Duta Besar Ahmad Rusdi menyampaikan keyakinannya bahwa hubungan yang kuat antara Indonesia dan Thailand ini akan terus menguat di tahun-tahun mendatang. Duta Besar Ahmad Rusdi juga mengajak hadirin agar senantiasa bekerja sama untuk membawa Indonesia dan Thailand beserta masyarakat kedua negara tersebut menjadi semakin dekat.

Acara dilanjutkan dengan diskusi panel. Materi diskusi panel sesi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro dan Assistant Professor Dr. Onanong Thippimol. Prof. Dr. Ing. Wardiman yang merupakan mantan Menteri Pendidikan Republik Indonesia memaparkan materi tentang kebudayaan bersama yang dimiliki oleh masyarakat di negara-negara dalam kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Thailand. Kebudayaan bersama yang dimaksud adalah cerita Panji atau Inu Kertapati. Di Thailand, cerita Panji popular dengan istilah Inao. Cerita ini menandai perkembangan kesusastraan Jawa yang sesungguhnya, yang terlepas dari kaitan dengan epos Ramayana dan Mahabarata.

Cerita Panji disebarkan oleh para pedagang di sepanjang rute perdagangan dan menjadi salah satu bentuk sastra paling populer di Asia Tenggara selama abad 17 dan 18. Cerita ini juga tersebar hingga ke Malaysia. Di Malaysia, cerita ini dikenal dengan istilah Hikayat. Tidak berhenti di situ, cerita Panji kemudian tersebar hingga ke Vietnam, Thailand, Myanmar, dan Kamboja. Pengaruh Panji itu digambarkan oleh seorang sarjana terkenal bernama Adrian Vickers sebagai ‘peradaban Panji di Asia Tenggara’. Pada bulan Oktober 2017, manuskrip-manuskrip cerita Panji diterima oleh UNESCO untuk dituliskan dalam Memori Dunia (MOW) sebagai salah satu warisan dunia.

Pemaparan kemudian dilanjutkan oleh Assistant Professor Dr. Onanong Thippimol. Dalam kesempatan itu, Assistant Professor Dr. Onanong menyampaikan bahwa meskipun wilayah Indonesia dan Thailand tidak berbatasan langsung sebagaimana Indonesia dan Malaysia, hubungan antara Indonesia dan Thailand terjalin dengan baik. Ada banyak kerja sama bilateral di antara kedua negara ini, salah satunya kerja sama dalam bidang pendidikan. Banyak siswa dan mahasiswa Thailand yang belajar ke Indonesia, banyak pula mahasiswa Indonesia yang belajar di Thailand.

Salah satu hal menarik dalam pemaparan itu, Assistant Professor Dr. Onanong menyampaikan sebagian besar materinya dalam bahasa Indonesia. Assisten Professor Dr. Onanong merupakan salah satu dosen di Southeast Asian Studies, Thammasat University yang juga melakukan penelitian mengenai Indonesia. Diskusi panel sesi pertama itu ditutup dengan tanya jawab antara peserta dan pembicara terkait dengan materi yang telah dipaparkan. Kegiatan diberi jeda sejenak untuk makan siang dan istirahat.

Ada yang istimewa dalam acara makan siang dalam acara itu. Para tamu menikmati hidangan diringi dengan lantunan gamelan Jawa yang dibawakan oleh dua grup karawitan. Dua grup tersebut adalah grup gamelan KBRI Bangkok, Ayodya Swara dan grup karawitan dari Srinakarinwirot University. Pemain gamelan dari Srinakarinwirot University seluruhnya terdiri atas mahasiswa Thailand. Dengan mengenakan kebaya dan beskap ala Jawa, mereka melantunkan tembang-tembang Jawa menghibur para tamu yang sedang menikmati santap siangnya.

Selama waktu istirahat makan siang, selain menikmati santap siang, di sekitar ruang makan siang, ada beberapa booth pameran yang dibuat oleh para mahasiswa baik mahasiswa dari Indonesia maupun dari Thailand, yang menyajikan informasi-informasi mengenai Indonesia dan karya-karya mahasiswa lainnya.  Selain itu di panggung utama di ruang acara, di sela-sela menunggu dimulainya diskusi panel kedua, tampil dua mahasiswa Thailand, terdiri dari gitaris dan penyanyi, yang membawakan lagu-lagu pop Indonesia diantaranya lagu Untuk Apa yang dipopulerkan oleh Maudy Ayunda, lagu Asal Kau Bahagia (Armada Band), dan lagu-lagu lainnya yang sangat mengesankan bagi warga Indonesia yang mendengarkannya karena ternyata lagu-lagu Indonesia cukup dikenal oleh mahasiswa Thailand dan sementara itu, hal ini sekaligus mempromosikan bahasa Indonesia melalui lagu-lagu Indonesia kepada warga Thailand.

Pada sekitar pukul 13.00, panel kedua yang mengangkat tema “Culture and Society in Indonesia”, dimulai.  Sebelumnya ditayangkan sambutan singkat oleh Dirjen Kebudayaan, Kemdikbud, Hilmar Farid, yang menyampaikan poin-poin penting terkait kebudayaan di Indonesia yaitu telah diberlakukannya UU No. 5 tahun 2017 tentang Kemajuan Budaya yang menjadi payung bagi segala kebijakan yang terkait dengan kebudayaan yang mengarah kepada penyusunan strategi kebudayaan yang dapat memberikan benefit yang optimum secara ekonomi bagi masyarakat.  Selain itu Dirjen Kebudayaan menyampaikan bahwa pada bulan Desember 2018 akan diadakan Kongres Kebudayaan 2018 dan sedang dicanangkan pembentukan platform kebudayaan yang disebut indonesiana. Oleh karena itu, beliau mengajak semua praktisi seni, seniman, pelajar, mahasiswa, dosen, dan masyarakat baik Indonesia maupun Thailand untuk berpartisipasi dalam platform pengembangan budaya tersebut.  Kemudian untuk tahun 2019, akan diadakan Cultural Caravan ke berbagai negara di dunia sehingga diharapkan acara ini dapat diadakan juga di Thailand.

Setelah penayangan video sambutan dari Dirjen Kebudayaan, moderator panel kedua yaitu Dr. Chaiwat Meesanthan mempersilahkan para pembicara untuk menyampaikan paparannya.  Sebagai pembicara pertama, Kepala Fungsi Ekonomi KBRI Bangkok, Lingga Setiawan mengemukakan tentang hubungan sosial ekonomi antara Indonesia dan Thailand dan perkembangan sosial ekonomi terkait keberagaman yang ada di Indonesia.  Pembicara kedua, adalah Dr. Surasak Jamnongsarn, dosen Srinakarinwirot University yang sudah lebih dari 15 tahun mendalami musik tradisional Indonesia terutama gamelan Jawa.  Beliau memaparkan tentang berbagai persepsi warga Thailand terhadap seni Indonesia yang mempengaruhi perkembangan seni dan sastra di Thailand, misalnya angklung yang sudah lebih dari 100 tahun masuk ke Thailand dan akhirnya sudah menjadi bagian dari seni musik Thailand yang dikenal secara luas oleh masyarakat Thailand.  Walaupun pada akhirnya cara bermain angklung di Indonesia dan di Thailand agak sedikit berbeda, namun tetap diakui bahwa alat musik angklung ini memang berasal dri Indonesia.

Setelah panel diskusi, masuk pada acara hiburan yang menyajikan pentas seni dan beberapa kolaborasi yang sangat langka dan tidak bisa ditonton di mana saja, dan bahkan merupakan tari kreasi hasil kerja sama para seniman dari Thailand dan Indonesia. Persembahan hiburan pertama adalah cuplikan sendratari dari cerita Mahabharata, yaitu kisah Gatotkaca dengan Pergiwa yang ditampilkan oleh penari dari Indonesia, yaitu Sudarmanto dan Thailand, yaitu Potchanan yang saat ini sedang melanjutkan studinya di ISI Yogyakarta.  Kemudian dilanjut dengan tari Ratoh Jaroe oleh para siswa dari SIB yang memukau para penonton dengan kedinamisan gerak geriknya.  Ada juga persembahan dari Thammasat University yaitu peragaan busana daerah Indonesia dan tarian kreasi baru yang diringi dengan lagu Janger yang dipopulerkan oleh kelompok Swara Mahardhika. Para peragawan, peragawati, serta penari Janger tersebut merupakan mahasiswa dari Southeast Asian Studies, Thammasat University yang mempelajari bahasa dan budaya Indonesia.  Selain itu ada tari Legong Bali yang dibawakan oleh guru seni tari Thailand yang sudah lebih dari 30 tahun mempelajari seni tari Indonesia, yaitu Assoc. Prof. Chantana Iamsakun, dosen seni tari Thammasat University.  Selain itu, kolaborasi sendratari cuplikan dari cerita Ramayana versi Thailand (disebut Ramakiyan dalam versi Thailand) juga ditampilkan, yaitu kisah Hanoman (disebut Hanuman di dalam versi Thailand) dengan putri ikan bernama Suphannamacha yang kali ini tokoh yang tidak tersebutkan dalam kisah Ramayana versi Jawa itu ditampilkan dengan mengenakan pakaian seperti tokoh putri Jawa namun dibagian tubuh belakangnya terdapat ekor ikan seperti pakaian yang dikenakan putri ikan di dalam sendratari Ramayana versi Thailand.  Pada awalnya putri ikan Suphannamacha versi Jawa menari dengan gaya tari Jawa lalu dilanjutkan dengan Hanoman dan Sugriwa (disebut Sukhrip dalam Ramayana Thailand) kemudian diakhiri dengan interaksi antara Hanoman dan Suphannamacha dengan koreografi tari versi Thailand.  Pertunjukan-pertunjukan yang disajikan sangat mengesankan dan dari berbagai kolaborasi yang terjadi, menunjukkan eratnya hubungan Indonesia dengan Thailand terutama terakit sosial dan budaya.

Rangkaian acara ditutup dengan sambutan terima kasih oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan, KBRI Bangkok, Prof. Mustari yang menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan dalam mewujudkan acara Indonesian Day ini dan diharapkan acara serupa dapat terus diadakan di tahun-tahun mendatang.  Kemudian dilanjutkan dengan sambutan penutupan cara oleh Dekan Faculty of Liberal Art, Thammasat University yang juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja sama dengan baik, terutama KBRI Bangkok dan Thammasat University dalam hal ini melalui program South East Asian Studies akan terus menjalin kerja sama dengan Indonesia baik dari segi pendidikan, sosial, maupun budaya.

 

Duta Besar RI, Ahmad Rusdi bersama Dekan Faculty of Liberal Art, Thammasat University, beserta jajaran pejabat Thammasat University dan KBRI Bangkok
Duta Besar RI, Ahmad Rusdi memberikankata sambutan sekaligus menyampaikan paparan sebagai pembicara kunci
Mantan Mendikbud RI, Prof. Wardiman memaparkan tentang hubungan Indonesia dan Thailand dari segi budaya
Grup karawitan Ayodya Swara dari KBRI Bangkok dan grup karawitan mahasiswa dari Srinakarinwirot University
Kepala Fungsi Ekonomi, KBRI Bangkok sedang memberikan paparan tentang hubungan sosial ekonomi Indonesia – Thailand
Pertunjukan penggalan sendratari Mahabarata, cerita Gatotkaca dan Pergiwa oleh penari Indonesia dan Thailand
Penampilan tari Ratoh Jaroe dari Aceh oleh siswa-siswi Sekolah Indonesia Bangkok
Tari kolaborasi Indonesia dan Thailand yang menampilkan penggalan sendratari Ramayana versi Thailand, menceritakan kisah cinta Hanoman dan putri ikan, Suphannamacha
Tari Legong Bali dipersembahkan oleh penari Thailand
Tari kreasi baru Janger versi Swara Mahadhika ditampilkan oleh para mahasiswa Thailand dari Thammasat University
Penutupan acara Indonesian Day dengan berfoto bersama
Penayangan video sambutan Dirjen Kebudayaan, Kemdikbud RI, Hilmar Farid
Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Mustari menyampaikan sambutan terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *