Komunitas Jawa di Bangkok: Menjaga Akar Budaya Leluhur dengan Belajar Bahasa Indonesia

Selamat siang. Perkenalkan, nama saya Rahayu. Umur saya 67 tahun. Saya Ibu Rumah Tangga.

Siang itu di sudut kota Bangkok, kalimat-kalimat perkenalan formal itu terdengar dari dalam sebuah bangunan bercat hijau dengan gaya atap limas bersusun yang mengingatkan penulis pada atap Masjid Demak di kota dengan nama yang sama di Jawa Tengah. Bukan sekadar kebetulan, bangunan yang juga merupakan masjid ini memang berhubungan kental dengan suku dan pulau di Indonesia itu, begitu pun penduduk yang tinggal di sekitarnya.    Masjid Jawa, begitulah nama masjid ini, merupakan masjid yang berlokasi di kampung dengan nama yang sama, Kampung Jawa. Mereka yang tinggal di kampung ini sebagian besar adalah keturunan ketiga dan keempat suku Jawa yang dibawa oleh Raja Rama V pada akhir abad ke-19 untuk membantu mengerjakan pembangunan taman istana raja. Banyak literatur yang menyebutkan berbagai macam faktor mengapa mereka tidak kembali ke tanah air hingga menetap di Thailand hingga kini.

Walaupun telah lebih dari 100 tahun meninggalkan Nusantara dan sebagian besar sudah tidak berbahasa Jawa dan Indonesia seperti nenek moyangnya, masyarakat komunitas Jawa masih mempertahankan beberapa warisan budayanya, misalnya kenduri yang sering mereka adakan dengan makanan-makanan khas Jawa. Tidak hanya itu, mereka mencoba mengenali bahasa dan budaya nenek moyangnya yang lain dengan mempelajari bahasa Indonesia, seperti yang dilakukan oleh Rahayu yang bernama asli Phenphan Siriwatthana beserta keturunan Jawa yang lain. Sudah hampir tiga tahun ini, sekitar 15 orang keturunan Jawa belajar bahasa Indonesia dan budaya di Masjid Jawa. Kelas bahasa Indonesia ini merupakan hasil kerja sama antara pengelola masjid Jawa dengan anggota Diaspora Indonesia.

Pengajaran BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) di Masjid Jawa ini dilatarbelakangi oleh keinginan para keturunan Jawa ini untuk tetap mengenal dan mempertahankan bagaimana leluhur mereka berbicara dan berbudaya. Sebagian besar dari mereka mengaku ingin menguasai bahasa Indonesia untuk menjaga rasa akrab, lekat, dan dekat dengan saudara-saudara mereka di tanah air Indonesia. Sejak awal penyelenggaraannya, anggota Diaspora Indonesia yang sebagian besar pekerja dan mahasiswa berpartisipasi dengan sukarela mengajar bahasa Indonesia di sana. Selain itu, sejak tahun 2018 lalu KBRI Bangkok melalui Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Mustari, M.Pd., juga menugasi pengajar BIPA dari Pusat Pengembangan Strategi Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) Kemdikbud yang bertugas di KBRI Bangkok untuk turut berperan aktif dalam mengajar bahasa dan budaya Indonesia pada para keturunan Jawa ini. Sehingga, dengan adanya kerja sama dari PPSDK, KBRI Bangkok, dan Diaspora Indonesia dalam mengajar para peserta di Masjid Jawa ini, maka pelajaran BIPA di sini menjadi semakin meriah.

Pengajar PPSDK yang ditugasi pada tahun ini, Rury Luberti menyebut pengajaran BIPA di Masjid Jawa ini memiliki keunikannya tersendiri karena sebagian besar pemelajar di sini ingin mengenali budaya Indonesia dengan sarana pembelajaran bahasanya. Oleh karena itu, mereka sangat antusias ketika pengajar mengajar tentang kebudayaan Indonesia, seperti makanan, lagu-lagu, dan cerita daerah. Jika biasanya pemelajar bahasa asing ingin belajar untuk pendidikan, pekerjaan, atau sekadar wisata, para pemelajar BIPA di Kampung Jawa ini mempelajari bahasa Indonesia untuk mengetahui sosial, budaya, dan kebudayaan dari negeri tempat leluhurnya berasal.

Salah satu keturunan Jawa yang lain yang juga merupakan imam dan pengelola Masjid Jawa, Rangsan Binkamson menyampaikan bahwa selain untuk mendekatkan diri pada budaya leluhur, kelas bahasa Indonesia yang diadakan di masjid ini juga menjadi sarana silaturahmi anggota komunitas keturunan Jawa yang ada di Thailand.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *