WAWANCARA DENGAN ATASE PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KBRI BANGKOK: BUDAYA, PARIWISATA DAN GENERASI MUDA

Kang Camar Haenda, Jajaka Pinilih Kabupaten Bandung 2019 berkesempatan mengunjungi KBRI Bangkok, Thailand dan berhasil mewawancarai Prof. Dr. Mustari Mustafa M.Pd selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Bangkok pada hari Jumat, 7 Februari 2020.

Ada banyak hal yang dibahas, mulai dari strategi promosi budaya, pariwisata, dunia pendidikan hingga peran generasi muda sekarang dalam menghadapi persaingan di era industri saat ini. Yang mana seperti kita ketahui bahwa generasi muda merupakan tonggak estafet nasib perjuangan bangsa. Selaras dengan Paguyuban Mojang Jajaka Kabupaten Bandung yang berfokus pada generasi muda yang unggul, dan dapat menjadi nonoman panutan untuk masyarakat.

Pembahasan pertama tentunya mengenai strategi KBRI Bangkok dalam promosi budaya Indonesia. Kegiatan promosi budaya yang biasa dilakukan biasanya berupa pameran-pameran, event-event seni budaya, dan juga seminar, Conference, Baazar, Event Olahraga, Rumah Budaya, baik yang dilakukan oleh KBRI maupun yang bersifat kerjasama-kerjasama. KBRI Bangkok juga bekerjasama bersama Kompas Gramedia Group untuk membuat bahan bacaan digital yaitu e-Library sebagai wujud adaptasi KBRI Bangkok dengan era digital saat ini. Masyarakat tidak perlu datang ke perpustakaan konvensional dan meminjam buku, cukup dengan men-download aplikasi tersebut dan menikmati bahan bacaan yang dibutuhkan. Terdapat beberapa buku bacaan mulai dari pendidikan, ekonomi, diplomasi, politik, hingga pada buku-buku yang berkaitan dengan kebudayaan Indonesia.

Prof. Mustari juga menambahkan bahwa salah satu tugas KBRI bangkok adalah mempromosikan kebudayaan Indonesia. Dan strategi tersebut ada yang langsung dan tidak langsung. Kegiatan promosi yang secara langsung adalah kegiatan yang bersifat terencana seperti event, pameran, dsb. Sedangkan yang secara tidak langsung adalah keberadaan dari KBRI itu sendiri. Menurutnya, Kantor KBRI yang berada strategis ini menunjukan wibawa negara kita sebagai negara besar dan disegani. Oleh karena itu nama “Indonesia” secara tak  langsung ikut terpromosikan.

Dalam mempromosikan pariwisata dan kebudayaan Indonesia, menurutnya perlu adanya kerjasama antara stakeholder yang ada sehingga kegiatan tersebut berjalan efektif dan efisien. Selain itu, strategi lain adalah meningkatkan rasa kenyamanan agar wisatawan ingin berkunjung lagi ke tempat tersebut. Sebagai contoh negara Thailand, hal tersebut bisa tercermin dari kualitas SDM  dan masyarakat setempat yang tidak “ribut”, dan Bangkok memiliki itu. Menurutnya sangat jarang terdengar orang membunyikan klakson kendaraannya di jalan raya dan membuat bising. Contoh kenyamanan itu mungkin adalah satu dari sekian permasalahan yang ada. Ditambah lagi dengan akseptabilitas serta infrastruktur yang memadai juga menjadi nilai tambah.

Bahasan selanjutnya adalah mengenai generasi muda dan peranannya dalam era globalisasi saat ini. Dalam segi peranan untuk memajukan bangsa, menurutnya generasi muda saat ini merupakan generasi  yang masih perlu ‘diisi’ baik dari segi pengetahuan maupun pengalamannya. Ia menyarankan agar generasi muda selalu melakukan kegiatan positif dan bermanfaat. Dengan  meningkatkan kualitas diri maka akan berpengaruh pada tumbuh kembang negara dalam berbagai sektor dikarenakan memiliki SDM yang unggul.

Peranan memajukan bangsa salahsatunya adalah mencintai budaya dan tradisi daerahnya sendiri. Atase Pendidikan dan Kebudayaan memberikan pandangannya mengenai generasi muda saat ini yang kurang cinta terhadap budayanya. Sebagai contoh, Ketika disinggung mengenai penggunaan batik yang masih terdapat beberapa generasi muda memandang itu hal kuno, tidak keren, dan kurang milenial, Beliau menganggap orang-orang tersebut masih rendah levelnya dalam mencintai budaya. Perlu adanya proses untuk mendorong agar generasi muda mau mencintai budayanya, yaitu dengan memberikan contoh yang baik dan kompak untuk melakukan hal tersebut. Hal tersebut bisa dilakukan mulai dari institusi, pemerintahan, pejabat, ataupun subjek yang memiliki otoritas tinggi dalam memberikan pengaruh.

Bahasan terakhir adalah mengenai dunia pariwisata. Ketika diminta untuk melihat situasi dunia pariwisata kita saat ini, ada cara pandang baru yang didapat ketika Prof. Mustari diminta untuk membandingkan dunia pariwisata di Indonesia dengan Thailand. Ia mengutarakan bahwasanya tidak fair ketika kita mengkomparasikan antara kemajuan pariwisata Thailand dengan Indonesia. Thailand merupakan negara yang tidak pernah dijajah dan dibandingkan dengan kita yang diajah selama 353,5 tahun dan baru 75 tahun merdeka. Butuh waktu. Mungkin itulah jawabannya. Menurutnya Thailand pun membutuhkan waktu yang relatif tidak singkat untuk membentuk dan mem-branding dirinya sebagai “Negara Pariwisata”. Pembangunan infrastruktur butuh waktu puluhan tahun, pembangunan SDM juga puluhan tahun, dan saat ini Thailand sedang dalam proses membranding dirinya sebagai negara yang “hospitality” dan mengangkat budaya masyarakat Thailandnya itu sendiri. Terkadang masyarakat kita masih “kurang sabaran” dan kurang peka mengenai berbagai hal. Untuk mempercepat proses pembangunan ini diperlukan support yang penuh dari masyarakat pada pemerintah. Saat ini presiden Jokowi sedang gencar-gencarnya dalam melaksanakan pembangunan jalan tol dan berbagai pembangunan infrastruktur. Ia berpesan agar kita senantiasa mendukung pemerintah secara penuh dalam berbagai sektor dan program.

Berdasarkan hal diatas, tentunya sebagai generasi muda ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memajukan bangsa dalam berbagai sektor terutama budaya dan pariwisata. Salahsatunya adalah dengan meningkatkan potensi dan kualitas diri, melakukan hal-hal yang positif, menambah pengetahuan dan pengalaman sehingga dapat menjadi generasi muda yang cerdas dan unggul sehingga dapat bersaing dengan negara lain.

Diakhir pertemuan, Kang Camar memberikan cinderamata plakat dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Bandung, serta kenang-kenangan berupa wayang golek karakter ‘Cepot’ dan lukisan Kampung Seni Giriharja Jelekong dari Kecamatan Baleendah sebagai salahsatu kesenian dan ekonomi kreatif yang ada di Kabupaten Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *